Harta Terindah
Kehidupan seseorang itu tak pernah terduga. Seperti kata pepatah, hidup itu bagai roda yang berputar, kadang di atas kadang dibawah. Tadinya aku menganggap kalimat itu memang kenyataannya, namun ternyata tidak sepenuhnya benar. Aku baru sadar setelah aku melihat dan mengalaminya sendiri.
Keluargaku bukanlah keluarga yang kaya, selama ini kami selalu hidup dengan keterbatasan. Aku dan kakakku sering di panggil oleh staf TU karena kami sering sekali menunggak tagihan dari sekolah. Kami juga jarang pergi ke kantin untuk jajan, bahkan kamipun sering menolak ajakan teman untuk pergi shopping, nonton film, jalan-jalan dan sebagainya itu, karena kami tau banget bahwa gak ada uang lebih untuk melakukan semuanya. Kami memilih untuk menabung uang kami, tapi tidak di bank karena bank memungut pajak yang besar, padahal uang yang kami tabung jumlahnya tidak banyak, hal itu sangat merugikan bagi kami.
Orang tuaku tidak bekerja di gedung mewah atau berlantai tingkat seperti kebanyakan orang tua. Ayahku bekerja serabutan, kadang tukang parkir, kadang membantu di warung makan, kadang menyapu jalan, kadang menjadi kuli bangunan, dsb. Sedangkan ibuku, selain sebagai ibu rumah-tangga juga membantu ayah untuk memenuhi kebutuhan keluarga dengan membuka usaha kecil-kecilan. Dengan bermodalkan mesin jahit yang telah usang ibu menjalankan usahanya. Mereka adalah orang-orang yang selalu berada di bawah, dan jarang mendapatkan kesempatan untuk berada di atas. Tapi walaupun begitu mereka tak pernah putus asa, sebab mereka tau mereka melakukannya bukan untuk diri mereka namun untuk kami, mereka berusaha untuk mencukupi kebutuhan kami. Aku sangat mengagumi perbuatan mereka, suatu saat nanti aku ingin membuat mereka menempati posisi atas, agar perjuangan mereka selama ini takkan percuma.
***
Sekarang kakak duduk di kelas-11 SMA, kakak dapat memasuki sekolah SBI karena kakak telah meraih nilai yang tinggi, aku iri dengan kakak karena nilai yang kakak peroleh dapat membahagiakan ayah dan ibu. Aku juga harus berusaha supaya dapat membahagiakan ayah dan ibu.
Suatu hari ketika kakak pulang sekolah wajahnya terlihat habis menangis, ibu terlihat sangat mencemaskan keadaan kakak.
“Kamu kenapa Ra?” kak Tiara hanya diam sambil menggelengkan kepala, lalu menuju ke kamarnya meninggalkan kami yang dari tadi menunggu jawaban kakak.
“Yah, Tiara kenapa? Kok dia nangis gitu?”
“Ayah tidak tahu, dari tadi pas ayah boncengin Tia udah sesengguk-an gitu! Pas ayah tanya Tia hanya diam dan tertunduk!”
“Yah, bu.. biar Via aja yang nemuin kakak!” aku yang dari tadi melihat wajah ibu yang cemas mulai berjalan menuju kamar kakak. Saat kutanyakan pada kakak, kakak hanya terdiam, memandangku sambil sesenggukkan. Aku terus menunggu sampai kakak mau menjawab.
“Tadi disekolah aku dipanggil lagi sama pak TU.” Mata kakak terlihat tajam menatapku.
“Lha.., kan udah biasa to kak??”
“Bukan itu masalahnya.”
“Terus??” kakak terdiam sejenak.
“Setelah balik kekelas teman-teman ngejekin, katanya ayah dan ibu nggak niat nyekolahin aku. Aku gak terima makannya aku bales terus perkataan mereka tapi akhirnya aku kalah. Aku sedih ayah dan ibu di bilang kayak gitu, padahal mereka udah bekerja keras selama ini. Makannya aku nagis.”
“Ohh.. jadi gitu!! Memangnya siapa sihh yang bilang kayak gitu, sini biar aku yang njelasin sama mereka!!”
“Ah, kamu ni… aku serius!!!”
“Heh, aku juga serius tau…!!” sambil setengah bercanda aku memukul lengan kakak.
“Hehe.. Kak, aku juga sering digituin kok! Tapi aku cuma bales dengan senyum. Saat mereka ngomongnya udah nglonjak aku cuma meringis, terus ku jawab. Masih untungan aku kale, kalian punya orang tua bekerja di gedung-gedung gede dengan gaji tinggi tapi jarang kumpul bareng, gak pernah makan bareng, atau berlibur ke pantai dan naik gunung. Aku gak ngambil ati omongan mereka. Jadi, kakak juga ya..!”
“Makasih ya dik, walaupun kamu nyebelin tapi kamu pinter ngibul!” kakak tersenyum sambil mengucek-ucek rambutku. Aku senang dapat melihat senyum itu kembali.
“Eeh.. kalo yang ini serius. Aku gak ngibulin!! Lalu tawa kamipun pecah memenuhi kamar.
***
Ayah dan ibu yang dari tadi mendengarkan pembicaraan kami dari luar lalu menerobos pintu kamar dan memeluk kami.
“Tia, Via maafkan ayah dan ibu ya.. Kami telah membuat kalian malu di hadapan teman-teman kalian.” Kata ibu sambil memeluk erat tubuh kami.
“Ibu, apa-apaan sih. Kami nggak malu kok punya ayah dan ibu seperti kalian. Kami malah bangga banget udah diberi ayah dan ibu sebaik dan semulia kalian. Kami nggak akan ngecewain kalian. Hehe..” Ibu menyambut kataku dengan tangis kebahagiaan.
“Iya, aku bangga bisa mempunyai kalian. Aku nggak akan dan nggak mau denger omongan orang lagi. Yang penting kita bisa berkumpul di tempat ini, bisa tertawa bareng, bisa makan bareng, bisa saling memandang. Rasanya sudah lebih dari cukup.”
“Waah.. kakak bisa ngegombal juga ya!! Hhahaha…”
“Terima kasih ya, nggak percuma usaha kami selama ini untuk membesarkan kalian. Semoga setelah dewasa nanti kalian bisa menjadi contoh yang baik bagi anak-anak kalian.” Kata ayah sambil tersenyum bangga.
“Amiiiin..!!!” seru kami serentak. Air mata yang tertumpah hari ini akan kami ingat selalu dalam hidup kami karena inilah harta terindah bagi kami.
“Tunggu, kok ada bau gosong ya….?”
“Waduh, aku lupa matiin kompor. . . . .!!!!!”
****
Hhe...
Hallo semua, ini adalah cerpen pertama yang aku buat. Memang masih kacau, jadi aku mohon kesediaannya untuk memberi komentar, masukan, dll. Aku akan sangat menghargai sekali. Terima kasih sebelimnya......(39)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar